SOEGIJA, Film Layar Lebar Pertama Studio Audio Visual PUSKAT Yogyakarta***Kamera untuk Masyarakat Adat***Peluncuran Film Dokumenter*** "

cari isi blog ini anda tulis kata kuncinya dan di search

Tampilkan postingan dengan label publikasi Film dokumenter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label publikasi Film dokumenter. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 April 2011

Film Dokumenter Berawal dari Propoganda

PDF Cetak Surel
Sabtu, 22 Januari 2011 01:25


Ketika berbicara film dokumenter di Indonesia mungkin tidak sejelas kalau berbicara film fiksi. Bagi orang awam, film dokumenter adalah film hitam putih, dan juga film yang berbicara mengenai kenyataan tapi kemudian timbul pertanyaan mengenai seperti apa kenyataan itu. Sejarahnya, dokumenter itu sangat kelam sekali, berawal dari kolonialisme.

Ketika Belanda mulai memperkenalkan filmnya, yang sekarang dikenal dengan layar tancap di daerah Kebon Ka­cang, belakang Hotel Indo­nesia-Jakarta, merupakan film dokumenter pertama kali yang diperkenalkan pada 5 Desem­ber 1900 di Batavia (Jakarta), lima tahun setelah film dan bioskop pertama lahir di Peran­cis. Film pertama di Indonesia ini adalah sebuah film doku­menter yang menggambarkan perjalanan Ratu Olanda dan Raja Hertog Hendrik di kota Den Haag.

Ketika film cerita yang di impor dari Amerika di putar pertama kali di Indonesia pada tahun 1905, film-film produksi pemerintah kolonial saat itu masih berupa film doku­menter. Saat itu banyak diproduksi film-film dokumenter yang tujuan­nya memang propaganda. Dalam hal ini film dokumenter itu bisa menjadi media pem­belajaran yang bersifat pence­rahan, tapi juga bisa mem­berikan pemahaman yang justru manipulatif. Misalnya, dari tujuan untuk memberikan visi baru atau pemahaman baru, tetapi sebenarnya film dokumentar bisa menjadi suatu upaya propaganda untuk me­manipulasi fakta yang ada.

Pada perang dunia ke-2, Adolf Hitler (pemimpin NAZI Jerman, Red) sangat piawai dalam menciptakan film doku­menter menjadi satu mitos dunia. Sedangkan di Indonesia, film – film dokumenter Be­landa jelas mempro­pagan­dakan keindahan Hindia-Belanda kepada rakyatnya sendiri, bahwa di Indo­nesia tidak ada pende­ritaan dan hidupnya bagai di surga. Itu contoh dari mani­pulatif film doku­menter menjadi tujuan propaganda.

Pada tahun 1905 ini juga mulai masuk film-film dari Cina (Tiongkok) melalui China Moving Picture. Dua film Tiongkok pertama adalah Li Ting Lang yang bercerita tentang revolusi di China dan Satoe Perempoean Yang Ber­boedi. Sebagai catatan seluruh film yang diputar hingga tahun tersebut masih berupa film bisu.

Film Indonesia pertama kali diproduksi pada tahun 1926 adalah film bisu. Pada tahun 1931, film Indonesia yang bersuara diproduksi oleh Tans Film Company bekerja sama dengan Kruegers Film Bedrif di Bandung dengan judul Atma de Vischer. Selama kurun waktu itu (1926-1931) seba­nyak 21 judul film (bisu dan bersuara) diproduksi. Pada tahun 1941, tercatat sebanyak 41 judul film yang diproduksi. Terdiri dari 30 film cerita dan 11 film yang bersifat doku­menter. Nama-nama Roekiah, Rd Mochtar dan Fifi Young sangat populer pada masa itu.

Di tahun 1942, produksi film anjlok. Hanya 3 judul film yang diproduksi. Hal ini ten­tunya berkaitan dengan masuk­nya pendudukan Jepang di Indonesia yang melarang akti­vitas pembuatan film. Pendu­dukan Jepang mendirikan Pusat Kebudayaan (Keimin Bunka Sidhoso) yang di dalam­nya ada Nippon Eiga Sha yang mengurusi bagian film. Selama masa pendudukan Jepang inilah, film mulai secara terang-terangan digunakan sebagai alat propaganda politik. Film yang di­putar, se­lain film do­kum­en­ter Jepang yang menonjolkan “ke­ga­­gahan” Jepang, juga film-film Jerman yang adalah sekutu Jepang. Film Amerika dilarang beredar. Namun pendudukan Jepang masih sedikit berbaik hati dengan memberikan ke­sem­patan kepada kaum pri­bumi untuk mempelajari tek­nik pembuatan film.

Kemudian masuk ke za­man Orde Lama. Di Zaman Orde Lama ini film dokumenter masih bersifat propaganda, tapi untuk tujuan atau membangun nasionalisme di Indonesia. Di Orde Baru, pada zaman ini film dokumenter juga masih bersifat propaganda dan itu sangat jelas, sehingga masya­rakat umum sampai tidak tahu kalau itu namanya film do­kumenter. Pada era ini, film dokumenter di­pa­hami secara sempit seba­gai film seja­rah, film flo­ra dan fauna, dan terutama film penyuluhan dan propaganda pemerintahan orde baru, yang mengi­sah­kan melulu kesuk­sesan program-pro­gram pemerintah dan penanaman kebencian terhadap mereka yang tidak bersetuju dengan pemerintah.

Dalam perfilman di In­donesia di era ini, ada be­berapa film yang berhasil membuat trauma kolektif yang panjang karena telah masuk kewilayah politik yang sangat kontrofersial. Bahkan beberapa film tersebut sempat menjadi rujukan bagi kebenaran sejarah oleh banyak kalangan. Sebut saja film Janur Kuning, Enam Jam di Yogja, G 30/S PKI dan Serangan Fajar adalah beberapa contoh film docudrama politik yang cukup kontrofersial. Bahkan Film Pengkhianatan G 30S/ PKI adalah salah satu film yang telah berhasil mem­pengaruhi publik selama berta­hun-tahun. Film docudrama yang berduransi 271 menit tersebut semula berjudul Se­jarah orde Baru. Namun karena beberapa alasan, judul tersebut diganti menjadi seperti apa yang selama ini diketahui.

Film Dokumenter Indonesia Modern

Jika meninjau Film Doku­menter Indonesia yang telah berkembang pesat dalam dasa­warsa terakhir ini, di mulai pada akhir 1990-an film doku­menter bergerak secara dina­mis, antara lain mewujud dalam bentuk film advokasi sosial-politik, film seni dan ekspe­rimental, film perjalanan dan petualangan, film komunitas, dan terutama sebagai media alternatif di bidang seni audio-visual bagi anak muda, Film dokumenter mewujud menjadi satu genre seni audio visual yang memiliki sifat demokratis sekaligus personal.

Dengan ruang kreativitas yang terbuka luas, yang tidak terbatas sebagai produk industri media dan hiburan, film doku­menter memberi kesempatan kepada semua orang untuk menampilkan diri, baik sebagai film memunculkan karya yang unik, orisinil dan khas, yang tidak terkerangkeng oleh stereo­type karya-karya film dari dunia industri hiburan. Dengan karakteristik yang demikian itu, film dokumenter menjadi karya yang bersifat alternatif, baik dari segi ideologi, isi, maupun bentuk, sehingga mampu me­na­rik minat masyarakat umum dan terutama anak muda.

Jika sebelumnya pemutaran film dokumenter di TV, mas­yarakat lebih mengetahuinya sebagai film penyuluhan atau program penyuluhan, dan tidak mengetahui kalau itu film dokumenter yang berbentuk propaganda atau rekayasa dari film dokumenter, menjelang akhir kekuasaan Orde Baru, Mira Lesmana, Riri Riza, Nan T Achnas membuat doku­menter seri berjudul ‘Anak Seribu Pulau’. Meskipun kon­sepnya film dan ditayangkan di televisi, film dokumenter tersebut merupakan nafas baru bagi dunia dokumenter di Indonesia. Film tersebut hanya di istilahkan saja dokumenter televisi dan dokumenter film.

Saat itulah Mira dan kawan-kawan mampu menembus hegemoni televisi untuk mena­yangkan film dokumenter ke seluruh televisi. Salah satu dobrakan yang perlu di acung­kan jempol. Kemudian seorang Tino Sawunggalu membuat sebuah film dokumenter yang mampu menembus jaringan bioskop. Filmnya yang berjudul ‘Student Movement’ adalah sebuah film mengenai peristiwa Mei 1998.

Saat ini di Indonesia , film dokumenter memang masih dilihat sebagai proyek rugi, karena biaya pembuatannya besar tapi tidak bisa dijual. Proses pembuatannya minimal 1-2 tahun. Jadi hanya produser-produser yang idealis yang membuatnya. Biasanya yang mensponsori adalah lembaga donor luar maupun dalam negeri. Tayangan Discovery-National Geography dimana semua dokumenter ada di situ, sebenarnya dapat di jadikan inspirasi bagi Indonesia di mana mereka mau dan berani investasi di documenter. Point a view mereka adalah memiliki arsip visual mengenai dunia nantinya. Menjadi agak dra­matis kalau anak cucu bangsa Indonesia ingin mengetahui atau menonton kesenian Dayak harus membeli di Discovery, karena Indonesia tidak memi­liki dokumentasi visualnya lagi.

Dewasa ini di media te­levisi, film dokumenter me­mang menjadi semakin ber­kem­bang walau membuat rancu sendiri. Namun demikian masih ada juga yang tetap berada di jalurnya, dan men­distribusikan filmnya ke festival atau TV asing. Sebuah Festival yang cukup besar dan bergengsi di Belanda adalah International Documentary Festival Amster­dam (IDFA) yang menjadi pelopor festival dunia untuk dokumenter. Dalam Festival ini berbagai jenis kriteria penilaian untuk film doku­menter di berikan penghargaan.

Namun demikian, saat ini perkembangan Film Doku­menter Indonesia menjadi semakin dinamis yang di tandai dengan tumbuhnya komunitas – komunitas film di seluruh pelosok Nusantara. (adk/dari berbagai sumber)




http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=816:film-dokumenter-berawal-dari-propoganda&catid=17:feature&Itemid=87




JAKACU75
BACA MPAPOLA/SELANJUTNYA >>

Rabu, 02 Maret 2011

Kurang Info Sutradara Gagap Menyampaikan Film Dokumenter

jum'at, 25 Februari 2011 18:42

Kapanlagi.com - Sutradara Indra Tirtana yang juga menyutradarai film MISTERI HANTU SELULAR, berkeinginan untuk membuat sebuah film semi dokumenter mengenai proklamator. Akan tetapi dirinya dihadapkan dengan kendala untuk data sejarah yang ada dan hanya orang luar yang memilikinya. Bagi Indra ini adalah sesuatu hal yang lucu karena sejarah negara sendiri tapi yang mempunyai orang luar.
"Saya sendiri mau. Tapi ini ada konsekuensi karena setiap sineas pasti akan gagap karena tidak ada data-data di Indonesia yang lengkap. Mungkin negara lain yang punya. Ini lucu," ujarnya saat dijumpai di pekayon Pejaten, Jakarta Selatan, Rabu (23/2).
Bagi Indra data tersebut sangat perlu agar filmnya bisa tersampaikan dengan benar dan tak ditambah-tambahi.
"Memang banyak orang yang salah anggapan mengenai tokoh A, misalnya seperti Bung Karno apakah benar seperti itu maka kita harus punya data konkrit dan premisnya. Supaya tidak gagap dan pantas menyampaikan filmnya," paparnya.
Permadi juga angkat bicara, bahwa film tentang Bung Karno sudah ada seperti LIVING DANGERIOUSLY. Namun isi film tersebut banyak menjelek-jelekan. Menurut Permadi sudut pandang film tersebut bisa diambil dari mana saja tergantung siapa yang membuat filmnya.
"Kalau dia yang bikin politis, maka segi politisnya yang diangkat, kalau dia pengagum maka yang baik baiknya, tapi kalau seorang pembenci Bung Karno maka akan dibuat yang jelek-jeleknya," tukasnya. (kpl/buj/faj)
http://www.kapanlagi.com/showbiz/



Borneo Tribune Pontianak, Rabu, 17 Februari 2010

Lewat Film Dokumenter, Telapak-AMAN Sajikan Fakta Kerusakan Hutan Kalbar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalbar dan Telapak melakukan pemutaran film documenter hasil investigasi terhadap dugaan pengrusakan kawasan hutan adat suku Dayak Iban oleh perkebunan Kelapa Sawit PT. Ledo Lestari di Perbatasan RI-Malaysia, di Restoran Tapaz, Selasa (16/2).

Hadir para jurnalis dari berbagai media cetak maupun elektronik untuk menyaksikan film berdurasi 15 menit yang menggambarkan secara jelas fakta-fakta kerusakan hutan di Semunying Jaya dan komentar-komentar
masyarakat sekitar yang merasa tidak berdaya untuk melakukan pencegahan terhadap kerusakan hutan adat mereka.

Ketua BPH AMAN Kalbar, Sujarni Alloy, mengatakan, film yang dibuat bersama Telapak tersebut mengangkat fakta yang terjadi mengenai kerusakan hutan di Semunying Jaya dan perbatasan dengan Malaysia, "Kami lakukan investigasi dua minggu, dengan harapan adanya gambar-gambar tersebut adalah faklta yang tak terbantahkan," ujar pria brewok ini. Forum Internasional

Film yang menyajikan fakta kerusakan hutan itu juga rencananya akan di putar di forum internasional, dan saat ini sedang dalam proses perubahan ke teks Bahasa Inggris, namun di satu sisi. Film tersebut, lanjut Alloy akan
diserahkan juga ke instansi terkait seperti, Departemen Kehutanan, Pemerintah Daerah, "Kami sajikan fakta, selain film juga ada beberapa foto dokumentasi," kata Sujarni Alloy.

Sebelumnya, Kabid PHKA Dinas Kehutanan, Soenarno, di Pontianak, mengungkapkan, delapan perusahaan yang diduga membuka lahan tanpa ijin di dua kabupaten di Kalbar sudah di periksa Bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Dinas Kehutanan Provinsi Kalbar.

Kata Soenarno, Sebenarnya pembukaan lahan tanpa ijin terjadi di seluruh kabupaten di Kalbar, namun baru dua kabupaten yakni Sanggau dua perusahaan dan di Bengkayang enam perusahaan yang sudah di tangani, "Sekarang masih tahap pengumpulan bahan keterangan (baket), di Bengkayang dari delapan, enam
perusahaan yang sudah diperiksa, sementara, Sanggau, dari lima, dua perusahaan yang sudah (diperiksa)," terang Soenarno yang menolak menyebutkan nama perusahaan karena alasan masih dalam tahap pemeriksaan.

Perusahaan-perusahaan tersebut juga kata Soenarno, membuka lahan tanpa ijin dari Menteri Kehutanan, dengan total lahan yang di buka, di Bengkayang, 20 ribu hektar, dan di Sanggau sekitar 4000 hektar.

Terkait pelanggaran, perusahaan yang melanggar akan di jerat dengan UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan pasal 50 ayat (1), (2) dan (3), "Ancamannya ya pidana, karena mereka (perusahaan) membuka kawasan hutan tanpa ijin dari Menteri Kehutanan," kata Soenarno lagi.

Dituturkan Soenarno, pelanggaran tersebut ditemui ketika akhir 2009 Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) melakukan pengukuran di lapangan, ditemukan beberapa perusahaan melakukan pembukaan kawasan hutan tanpa ijin.


http://groups.yahoo.com/group/infosawit/message/6919


Mahasiswa UMY Produksi Film "Arema, Agama

Selasa, 07 September 2010 01:21 WIB

ilustrasi (ANTARA/Ari Bowo Sucipto)
Berita Terkait

* Sriwijaya FC Berbagi Angka Dengan Arema
* Arema Kandaskan Persiba 3-0
* Arema Ingin Geser Persija
* Defisit Keuangan Arema Menyusut
* PSPS Ditahan Imbang Arema 1-1

Yogyakarta (ANTARA News) - Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) memproduksi film dokumenter "Arema, Agama Kedua" sebagai bentuk pemahaman terhadap masyarakat mengenai film dokumenter dan aplikasi mata kuliah.

"Film yang dibuat mulai Maret hingga Agustus 2010 itu menceritakan sisi lain klub sepak bola asal Malang, Jawa Timur (Jatim), Arema. Cerita mulai dari awal berdirinya Arema hingga menjadi juara Indonesia Super League (ISL) 2010," kata Line Producer Film "Arema, Agama Kedua" Fajar Junaedi di Yogyakarta, Senin.

Menurut dia, dengan mewawancarai sosok-sosok di balik kesuksesan Arema, seperti pendiri, manajer, orang-orang yang terlibat dalam pendirian Arema, pelatih, pemain, dan dan suporter.

"Selain ingin mengenalkan sisi lain dari film dokumenter, film tersebut juga ingin mengungkapkan sisi lain dari Arema. Menurut data dari Asian Footbal Confederation (AFC) pada musim pertandingan 2009/2010 suporter Arema merupakan suporter paling banyak, dengan rata-rata di setiap pertandingan tandang maupun kandang dipadati sekitar 30 ribu suporter," katanya.

Ia mengatakan, Arema secara manajemen juga berbeda dengan klub sepak bola lain yang ada di Indonesia. Ketika klub sepak bola lain masih berpegang pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Arema mampu bertahan dengan mandiri.

Hal itu yang kemudian mendorong mahasiswa untuk membuat film dokumenter mengenai Arema. Selain mengaplikasikan ilmu juga ingin mengungkapkan kepada masyarakat mengenai sisi lain dari Arema yang bertahan tanpa APBD.


"Kami berharap seluruh klub sepak bola di Indonesia setelah melihat film dokumenter itu nanti tidak hanya berharap pada APBD dan mampu bertahan secara mandiri," katanya.
BACA MPAPOLA/SELANJUTNYA >>

JAKACU75
jakaboyaoge.blogspot.com

Move your mouse to go back to the page!
Gerakkan mouse anda dan silahkan nikmati kembali posting kami!## TERIMAH KASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

Copyright 2010 gubhugreyot.blogspot.com - All rights reserved